| Search |
|
|

| My Baner |

|
| Shutbox |
|
|
| Iklan |
|
|
| Rank |
|
|
|
| Maka Pilihlah, Kemudian Bertakwalah |
| Wednesday, September 19, 2007 |
Penulis: Azimah Rahayu Suatu hari, saya akan menuju suatu tempat. Saya harus memilih kira-kira jalur mana yang akan saya lewati dan alat transportasi apa yang akan saya gunakan. Apakah saya akan naik angkutan umum? Yang lewat tol atau jalur lambat? Atau naik kereta yang cepat namun dapat dipastikan terhimpit? Atau apa? Dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki tentang kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih naik angkutan umum patas AC yang jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu berdesak-desakan dan lebih cepat). Namun ternyata saya salah. Apa yang saya prediksikan bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang penuh dan saya akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal, sebal, bete dan akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman medan terbaik, bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan menggunakan parameter-parameter islami. Tapi kok? Tapi akhirnya saya menyadari, bahwa pilihan saya memang salah. Salah dalam arti prediksi saya tidak tepat, bukan SALAH dalam arti lawannya BENAR. Persepsi saya semula yang saya pikir akan memberikan prediksi yang mendekati benar karena berlandaskan pengetahuan yang cukup, ternyata masih kurang. Hal ini membuat saya makin sadar, bahwa pengetahuan saya sangat sedikit. Membuat saya makin tahu, begitu banyak yang di luar control dan kemampuan manusia.
Namun toh, setidaknya saya telah mengambil pilihan dan menjalaninya dengan sadar. Kalau ternyata hasil dari pilihan itu tidak seperti yang saya harapkan saat mengambil keputusan, itu adalah konsekuensi yang harus saya terima. Tak perlu menyesal apalagi merutuki diri dan orang lain. Bukan tidak mungkin, ada sesuatu yang tidak saya tahu, menjadi hikmah dari kejadian di luar kontrol itu tadi.
***
Satu fragmen di atas hanyalah contoh kecil dan remeh temeh, yang menunjukkan bahwa semua hal dalam hidup ini adalah pilihan. Hal-hal kecil seperti baju dan makanan pun kita memilih. Sekolah, cita-cita, aktivitas, kehidupan beragama, jodoh dan sikap hidup, juga pilihan Kita melakukannya dengan sadar atau tidak. Dengan pemahaman atau tidak. Secara reflek atau dipikir-pikir dulu. Kita pilih sendiri atau dipilihkan oleh orang lain untuk kita. Semua adalah PILIHAN.
Dan setiap pilihan akan membawa pada arah yang berbeda, hasil yang berbeda, serta konsekuensi berbeda pula. Ada konsekuensi dan hasil yang merupakan akibat logis dari pilihan itu dan sebelumnya sudah kita prediksikan. Ada yang merupakan akibat dan hasil yang di luar control kita, dan tak kita duga sebelumnya. Tak masalah. Karena bukan itu poinnya. Bukan HASIL dari pilihan itu yang terpenting. Namun bagaimana proses kita memilih: landasan apa yang kita gunakan sebagai dalil, pengetahuan dan pemahaman terhadap permasalahan dan kesadaran atas segala resiko dari setiap pilihan.
Maka apakah engkau akan lebih suka untuk tidak memilih? Toh, pada akhirnya, saat kau hanya menjalani suatu kehidupan secara mengalir saja atau menunggu dipilih atau dipilihkan oleh orang lain kau tetap akan harus menjalani satu pilihan. Jika demikian, lebih baik engkau memilih dan memutuskan dengan sadar, dengan segenap ilmu dan pemahaman yang telah kau miliki. Bahkan sekalipun ternyata pilihan itu salah. Setidaknya kita sudah pernah memilih.
Bahwa kemudian kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di awal pada saat menjatuhkan pilihan, itu tidak masalah karena hidup memang demikian. Allah Tahu dan Maha Tahu, sedang pengetahuan manusia sangat terbatas. Mengambil dan menjalani setiap pilihan akan membuat kita menyadari begitu banyak keterbatasan pengetahuan, pengertian dan pemahaman kita. Jika ternyata pilihan itu salah, setidaknya engkau akan mengerti dan menjadi lebih dewasa karenanya. Engkau bisa memilih yang lain lagi. Memilih yang lebih baik lagi. Dan belajar dari pilihan sebelumnya.
Karena itu, mulai bangun keberanian untuk memilih, sekarang juga. Memilih berdasarkan pemahaman dan pengetahuan maksimal yang kita miliki. Bermusyawarah dan meminta masukan dari orang-orang yang fakih, jika bisa dilakukan. Kemudian, minta ketetapan kepada Dia Yang Maha Tahu Yang Terbaik Untuk Kita melalui shalat istikharah, sebagai bentuk pengakuan akan betapa banyak yang kita tidak tahu dan tidak mampu kontrol hal-hal di luar kita. Sesudahnya, pasrah dan tawakkal!
Apapun hasilnya, tidak menjadi masalah, karena kita sudah memilih. Hanya orang yang berani memilihlah yang layak untuk mendapat penghargaan. Seberapa pun berat sebuah pilihan, ia tetap layak diacungi jempol. Dan hanya satu kata yang pantas untuk seorang yang tak berani memilih: PECUNDANG!
azi_75@yahoo.com eramuslim
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 12:17 AM  |
|
|
|
| Kado Ramadhan |
|
Penulis: Aishliz Sedikit tergesa-gesa, saya naiki tangga pintu keluar stasiun Tsukiji. Khawatir terlambat, saya lirik jam di pergelangan tangan. Alhamdulillah masih banyak waktu yang tersisa rupanya. Sudah dua bulan saya berkerja part time di salah satu perusahaan Jepang di daerah ini. Untuk menjaga citra baik sorang muslimah, kata terlambat sangat saya hindari. Saya percepat langkah dengan merapatkan baju hangat mengusir angin dingin di musim gugur. "Hmm ... puasa hari ke dua di musim gugur," gumam saya. Penasaran dengan penampilan, saya lirik kaca jendela mobil yang sedang terparkir. Sedikit saya rapikan jilbab dan gamis. Tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang mencolek bahu saya. Saya palingkan wajah dengan memasang senyum malu. "Mareeshia no kata desuka" (Orang malaysia ya)?, seorang ibu setengah baya bertanya. "Bukan saya orang Indonesia," jawab saya masih dengan senyum malu.
Sedikit lega, ternyata yang mencolek bahu saya bukanlah pemilik mobil. Dari pertanyaan ringan tersebut, kami saling memperkenalkan diri dan bercerita penuh keakraban. Ibu yang bernama Mariko tersebut menjelaskan bahwa anak perempuannya sudah lima tahun bekerja di Malaysia. Saat melihat saya, Mariko-san, begitu saya panggil ibu itu, tiba-tiba teringat pada anaknya.
Dalam pembicaraan, tiba-tiba Mariko-san bertanya "Saya dengar hari ini bulan puasa, pasti terasa berat yah," ucapnya bersimpati.
"Wah dari mana ibu ini tau saya sedang shaum," pikir saya dalam hati.
Melihat perubahan wajah saya yang bingung Mariko-san segera menjelaskan. Putrinya yang berada di Malaysia minggu lalu mengabarkan, bahwa warga Malaysia yang mayoritas beragama Islam akan menjalankan puasa di pertengahan bulan Oktober ini.
Dengan bahasa sederhana saya jelaskan bahwa kami sebagai muslim tidak merasa berat menjalankan puasa. Karena dengan puasa akan lebih dapat mensucikan jiwa dan memberi kesempatan beristirahat bagi tubuh.
Mariko-san hanya mengangguk-angguk tanda setuju dengan wajah serius mendengarkan penjelasan saya. Sesekali dari mulutnya keluar kata, "Ooo, begitu."
Di akhir perjumpaan, kami saling bertukar nomor telepon dan alamat, sambil berjanji akan tetap saling berhubungan.
* * *
Tak terasa hari ini sudah memasuki hari ke lima Ramadhan. Alhamdulillah di bulan Ramadhan ini saya diberi keringanan oleh bagian personalia menggunakan waktu flexible time, dimana saya bisa datang lebih awal dengan waktu pulang lebih cepat.
Tiba di rumah saya siapkan ifthar (makanan untuk berbuka puasa) seadanya. Menungu waktu maghrib, saya putar nasyid Yusuf Islam & Friends sambil merebahkan badan di sofa, menghilangkan penat hari ini.
Tiba-tiba bell pintu apartemen berbunyi.
Saya lirik jam, "Hmmm masih jam setengah lima, tidak mungkin suami pulang kerja sebegini cepat".
Saya raih door phone, "Ya, siapa?"
"Saya Mariko, maaf datang tiba-tiba," jawab suara di luar pintu dengan sedikit kaku menyatakan permintaaan maaf.
Dengan diiliputi rasa kaget saya tutup door phone setelah meminta Mariko-san untuk menunggu sebentar. Saya segera berlari membuka pintu. Ketika saya sembulkan kepala, wajah ramah Mariko-san sudah menyambut dengan senyuman.
Saya sambut Mariko-san dengan riang sambil mempersilakan masuk. Tapi Ia menolak karena merasa tidak enak datang mendadak tanpa memberitahu lebih dahulu, katanya. Tiba-tiba Mariko-san mengeluarkan sesuatu dari dalam tas besarnya.
"Ini ada sedikit ala kadarnya, silakan dicicipi," ujarnya.
Melihat wajah kaget saya Mariko-san segera menjelaskan bahwa kirimannya itu sebagai hadiah untuk berbuka puasa.
"Alhamdulillah, terimakasih, saya terima dengan senang hati," ucap saya berbinar meski sedikit ragu apa isinya.
Membaca keraguan saya, Mariko-san segera menjelaskan bahwa makanan tersebut tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh agama saya - Islam. Sebelumnya ia sudah banyak bertanya pada putrinya di Malaysia mengenai 'ramuan' apa saja yang tidak diperbolehkan bagi agama Islam.
* * *
Setelah Mariko-san pulang, saya buka kado kirimannya. Alhamdulillah, Subhaanallah satu kotak kue manju dan kue mochi. Berkali-kali saya bersyukur pada Allah diberikan kado tak terhingga di bulan Ramadhan ini serta dipertemukan dengan orang seramah Mariko-san di negara yang terkenal dengan sikap individunya.
Sambil memandang kotak-kotak hadiah tersebut, dalam benak saya teringat salah satu firman Allah yang berbunyi: " ... dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya akan mencukupkan keperluannya..." (QS 65:3)
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shaleh sempurna. Ramadhan Kariim penuh berkah, rahmah dan maghfirah.
lizsa_anggraeny@yahoo.com
Catatan: Tsukiji : nama stasiun disekitar Tokyo Manju : kue dari bahan terigu berisi kacang hitam. Mochi : kue dari bahan ketan manis.
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 12:15 AM  |
|
|
|
| Tafsir sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah |
|
Tafsir Al-Quran Gaya Rasul Baru (Membongkar Kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah) Penulis: Lajnah pembela sunnah, memerangi bid’ah, dan kesyirikan Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut: 1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an. 2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman: إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan Kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105) 3. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.
4. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.
Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:
من قال في القرأن برأيه او بما لايعلم فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).
Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.
Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Sebagai contoh, bagaimana mereka menafsirkan ayat:
فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu’minuun :27)
Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu….. (lihat tafsir wa ta’wil hal.43).
Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.
Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”
Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.
Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:
A. Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.
Lihat:
1. Tafsir Al-Haqqah:16;21 2. Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma’arij hal 30. 3. Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
B. Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:
1. Ashabul A’raf adalah Assabiqunal awwalun. 2.Ashabul yamin adalah golongan anshar. 3. Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.
C. Penafsiran Malaikat yang memikul ‘Arsy pada surat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.
D. Penafsiran (man fis samaa’/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat ‘uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.
E. Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.
F. Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ….lihat hal. 42 dan 43.
G. Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16…dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.
H. Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A’raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal. 85.
I. Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85.
Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.
Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampuradukan antara Islam dengan Kristen,… dll.
Sumber : http://salafy.or.id
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 12:12 AM  |
|
|
|
| Istimewanya Wanita Islam |
|
Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini : 1.. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki. 2.. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya. 3.. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki. 4.. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki. 5.. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak. 6.. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya. 7.. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri. 8.. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM" Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??
Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?
Itulah bandingannya dgn seorg wanita.
Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?
Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.
Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya. Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH ... demikian sayangnya ALLAH pada wanita .... kan?
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 12:05 AM  |
|
|
|
| Rasulullah Berhadapan Dengan Avian Influenza |
|
Assalamu'alaikum... Rasul kita tercinta mungkin sudah lama berpulang kerahmatullah. Namun syariat dan sunnah yang ditebarkannya dengan penuh rahmat ke seluruh alam berbicara seakan-akan beliau SAW masih hidup bersama kita, mendalami kesedihan-kesedihan kita dan menyelamatkan kita dari marabahaya yang mengancam kehidupan kita. Betapa tidak. Dalam kasus Avian Influenza, pakar peneliti penyakit yang bersumber dari haiwan Prof. drh R Wasito Msc PhD bersama isterinya yang juga peneliti di fakultas yang sama Prof drh Hastari Wuryastuti Msc PhD. menyimpulkan dengan tegas bahwa agen vektor yang menyebarkan penyakit maut Avian Influenza adalah binatang kecil bernama "Lalat". (makalah terlampir).
Jika benar demikian, maka ketahuilah bahwa Rasululullah sejak 1426 tahun yang lalu telah memperingatkan bangsa Indonesia yang Muslim tentang akan datangnya penyakit ini dan cara menghadapinya. Dalam sebuah hadits sahih beliau bersabda: "Jika terjatuh seekor lalat ke dalam minuman salah seorang di antara kamu, maka benamkanlah dan minumlah. Sebab pada sayap kirinya terdapat penyakit dan pada sayap kanannya terdapat obat."
Subhanallah, perhatikanlah. Setiap lalat yang jatuh ke dalam air pasti menjatuhkan diri dengan sayap kiri terbenam ke air dan sayap kanan terusung ke atas. Pelbagai institut yang mengkaji hadis di atas dalam rangkaian 'Kajian Mukjizat al-Quran dan Sunnah' yang diketuai oleh Prof. Dr. Abdul Majid Az-Zindani meneliti secara empiris bahwa memang pada sayap kiri lalat terdapat berbagai macam virus yang mematikan. Di antaranya mungkin ada yang lebih gawat dari AI. Mereka berusaha mematikan virus-virus tersebut dengan cara-cara konvensional dan menemukan kegagalan. Namun ketika mereka memasukkan sayap kanan lalat secara otomatis mereka melihat perubahan yang signifikan. Seluruh virus apapun yang dibawa oleh sayap kiri lalat ternyata musnah dan mati akibat obat yang terdapat pada sayap kanan.
Subhanallah, hari gini masih banyak orang yang mempersendaguraukan hadits Nabi tentang jika lalat jatuh ke dalam minumanmu itu. Saya sendiri alhamdulillah dengan yakin dan tawakal sudah pernah melaksanakan hadits Nabi SAW. Pernah seekor lalat jatuh ke dalam minuman saya. Sebenarnya secara ekonomis saya mampu menukar dengan minuman yang baru. Tapi karena ingin melaksanakan hadits saya benamkan lalat itu, kemudian saya buang 'bodi'nya dan saya minum airnya. Alhamdulillah tidak ada sesuatu apapun yang terjadi kepada diri saya. Jika dulu saya melaksanakannya hanya karena yakin dengan sabda Nabi SAW, sekarang keyakinan saya itu bertambah.
Saya mohon ada yang menyampaikan tulisan ini kepada dua profesor di atas, agar mereka meneliti kemungkinan terdapatnya obat Avian Influenza pada sayap kanan lalat.
Allahu Akbar, sungguh sayang Nabi SAW terhadap umatnya. Meskipun beliau SAW telah lama meninggalkan kita ternyata beliau telah meninggalkan dua warisan sebagai panduan hidup bagi kita yaitu Al-Quran dan Sunnah.
KotaSantri@yahoogroups.com
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 12:02 AM  |
|
|
|
| Ihsan dan Keistiqomahan Akhlak |
| Tuesday, September 18, 2007 |
Seorang aktivis da’wah di sebuah kampus di Jakarta pernah mengatakan, ”Bila ada mahasiswa yang kos maka ketika ia pulang ke rumah, saat hari libur misalnya,orang tua cenderung menghargai keberadaannya di rumah. Tetapi bila ia bukan anak kos alias setiap hari memang tinggal bersama orang tuanya,maka keberadaannya di rumah, terkadang bisa dipandang sebelah mata saja. Mengapa? Karena mahasiswa yang kos,orang tuanya tidak tahu bagaimana tingkah laku anaknya sehari-hari sehingga saat anaknya pulang ke rumah,hanya akhlak baiknya saja yang terlihat. Berbeda halnya dengan orang yang menetap bersama orang tuanya setiap hari, maka dapat tersingkaplah semua akhlak hingga yang terjelek sekalipun.” Saya berpikir dan termenung, benarkah demikian? Jawabannya relatif. Bisa ya,bisa tidak. Ini tergantung sejauh mana pemahaman dan penghayatan seorang muslim dalam agamanya.
Peristiwa Ketidakistiqomahan Akhlak
Pada masa orientasi mahasiswa, semua elemen kampus berebut untuk menarik hati mahasiswa baru supaya tertarik masuk ke organisasinya, dengan keramahan, tegur sapa, meminjamkan buku kuliah, dll. Tapi setelah mahasiswa baru tsb masuk ke dalam organisasi kita, apa yang bisa kita tawarkan untuk mereka? Apakah kebaikan-kebaikan itu hanya di awal saja ? Seperti sebuah iklan, ”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah Anda.” Ya, terserah kita, akan tetap istiqomah berakhlak baik atau ternyata lama-lama tersingkap ada akhlak kita yang buruk. Persis seperti ketika parpol berebut suara umat lantas menawarkan janji-janji manis, dan berlagak perhatian kepada rakyat, tapi ketika parpol tsb menang rakyat pun ditinggalkan bahkan ditindas.Tragis.
Dalam pergaulan,terkadang kita sering pula mendengar pertanyaan, “Bagaimana akhlak si fulan kalau di rumah ?“ Atau ketika proses ta’aruf, para ulama menyarankan agar kita bertanya kepada keluarga atau orang terdekat si calon tentang akhlaknya. Ini berangkat dari hadits Rasulullah SAW bahwa orang yang berteman dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi dan orang yang berteman dengan pandai besi akan terkena asapnya.
Mengapa bisa ada pertanyaan seperti ini ? Karena manusia cenderung memiliki sikap yang berbeda di setiap tempat. Misalnya, si fulan di kampusnya selalu bersikap sopan, berwibawa, ramah, dan sederet akhlak baik lainnya. Tapi ketika di rumah, ia bisa saja berubah menjadi sosok yang pemalas, mudah marah, jorok dan akhlak buruknya tersingkap semua. Mengapa bisa muncul perbedaan seperti itu ? Apatah lagi penyakit ini sering muncul di kalangan yang notabene berlabel aktivis da’wah.
Bila kita seorang murobbi, terkadang ada keinginan dalam hati kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang suci yang memang layak untuk menjadi murobbi mereka. Tutur kata kita menjadi luar biasa lembut dihadapan mad’u. Akhlak buruk ditutup rapat-rapat. Namun ketika kita berinteraksi dengan teman dekat atau keluarga kita sendiri, akhlak asli yang tidak baik mulai tersingkap,menjadikan kata-kata kita seringkali menyakitkan dan mengiris hati, ghibah, sindir menyindir, mengalir begitu saja. Dengan mad’u, kita bisa menjadi orang yang sangat pengertian, tetapi dengan adik sendiri, kita sulit melakukan hal yang sama. Mengapa kita tidak berfikir bahwasanya semua manusia di muka bumi ini adalah juga mad’u kita? Meski kepada seorang syeikh sekalipun, bukankah sang syeikh juga bisa belajar dari kita bagaimana menjadi pendengar yang baik misalnya.
Dalam sebuah kelompok kecil terjadi dialog dan salah seorang berkata, “ Si fulan ketika menjadi ketua rohis sikapnya sangat terjaga, berwibawa dan lemah lembut tetapi kenapa ketika sudah lengser, sikapnya cuek dan bebas berperilaku?” Mengapakah bisa terjadi perubahan itu? Apakah karena sedang ada jabatan rohis saja maka kita berperilaku baik? Untuk menjaga image (Ja-im)?
Contoh lainnya; ketika kita pertama kali berkenalan dengan seseorang, tentu akhlak baiklah yang kita tonjolkan namun ketika sudah sekian lama berinteraksi,mulailah ada akhlak buruk kita yang terlihat. Ternyata tidak seindah di awal perjumpaan.
Muhasabah
Mengapa bisa terjadi perbedaan akhlak seperti di atas? Bukankah bila saja setiap muslim bersikap ihsan, tentu dimana dan kapan saja akhlaknya akan sama? Ihsan ini seringkali terabaikan padahal ia sudah seharusnya muncul setelah ada keimanan yang kokoh. Perlu dipertanyakan kadar keimanan seseorang bila tidak ada ihsan dalam dirinya. Dikaitkan dengan pertolongan Allah,bukankah Allah hanya akan menurunkan pertolongan-Nya kepada orang-orang yang beriman. Allah SWT berfirman : “Dialah yang telah memberikan dukungan dengan pertolongan-Nya (berupa kemenangan) dan dengan orang-orang yang beriman,dan Dialah yang telah menyatukan hati-hati mereka.” (QS.Al Anfal:62-63)
“Dan betul-betul wajib atas Kami untuk memenangkan orang-orang yang beriman.” (QS.Ar Rum:47)
Bila tidak ada kategori “orang-orang beriman“ ini, maka sampai kiamatpun tidak akan pernah datang pertolongan Allah itu. Kemerosotan kaum muslimin saat ini bisa jadi karena telah hilangnya ihsan dalam setiap pribadi muslim.
Mari kita lihat sosok Utsman bin Affan, sahabat Rasulullah yang sangat pemalu. Sampai-sampai Rasulullah dan para malaikat pun malu kepada Utsman. Yang harus kita renungkan, mengapa sampai para malaikat pun segan dan malu kepada sahabat rasul yang satu ini? Bukankah ini menandakan bahwa ada atau tidak ada orang, dalam kesendirian atau keramaian, Utsman tetap berakhlak sama, tidak ada yang berubah. Ia pemalu bukan hanya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah dan para malaikat-Nya. Ada ihsan dan keikhlasan di sini, tidak ada kepura-puraan.
Dalam shirah nabawiyah, Ali bin Abi Thalib mengungkapkan bahwa barangsiapa yang pernah berkumpul dengan Rasulullah SAW, kemudian kenal padanya, tentulah ia akan mencintainya. Beginilah Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita. Sangatlah berbeda dengan kondisi kebanyakan kita yang semakin orang mengenal kita maka semakin terlihat akhlak kita yang buruk-buruk. Sesungguhnya akhlak baik bukan hanya di hadapan manusia,tapi juga di hadapan-Nya,di saat kita sendiri maupun dalam keramaian, di kampus maupun di rumah, di awal dan di akhir.
Hal ini menjadi bahan introspeksi bagi diri saya pribadi dan juga kalangan pengemban da’wah. Seorang mu’min dengan mu’min lainnya ibarat cermin, bila ada yang salah pada saudaranya maka ia meluruskannya. Keistiqomahan dalam berakhlak sesuai manhaj Islam adalah kunci kemenangan. Bukankah Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.Terus menerus melatih diri dan menghayati bahwa hakikatnya kita sekarang ada dalam kerajaan Allah.Tak ada satu pun yang lepas dari pengawasan-Nya. Dia Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi.
Wallahu’alambishowab
AW, Jundullah sumber : MyQuran.com
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 11:59 PM  |
|
|
|
| Agama Bukanlah Pembatas Seni |
| Sunday, June 10, 2007 |
Assalamualakum Warahmatullahi Wabarakatuh, Untuk kali ini, saya akan membahas tentang seni, di indonesia banyak sekali orang-orang yang menggandrungi seni, banyak yang meng ekplorasi dirininya untuk kegiatan seni, tapi, apa sebenarnya seni itu, apakah seni itu adalah sebuah ungkapan rasa yang dituangkan dalam bentuk visual sehingga keindahan dari rasa itu ada dan membuat semua orang mengetahu keindahannya dan terkagum-kagum atasnya, tanpa memperhatikan akhlaq dan moralitas? apakah itu yang disebut seni? Saya bukan orang seni, tapi saya juga penikmat seni dan saya yakin pembaca pun suka dengan seni, bahkan mungkin pelaku seni. oleh karena itu, sya tidak akan membahas tentang seni itu sendiri, apa itu seni dan bagaimana itu seni karena saya bukan lah ahlinya. Tapi, yang ingin saya garis bawahi, apakah seni itu hanya memikirkan segi keindahan tanpa menghiraukan akhlaq dan moral? banyak pelaku seni diindonesia ini yang selalu bertentangan dengan moral dan agama, karena yang mereka pikirkan adalah keindahannya. dari mulai maaf (Inul daratista) sampai dengan kasus majalah playboy, mereka mengatakan ini adalah SENI, tidak ada yang bisa menghalangi seni agama sekalipun, dan lebih celakanya Agama terutama Agama Islam(dan saya bangga dengan Agama saya ini, Allahu Akbar) mereka menganggap seolah-olah agama itu membatasi mereka untuk berekspresi. islam membolehkan seni dan ekspresi tapi islam "MENOLAK FORNOGRAFI". Rasulullah pernah menyaksikan dan melihat pertunjukkan seni Berperang serta ketangkasan, dan rasulullah tidak melarang hal itu. karena memang suatu seni atau keindahan tidak bisa terlebas dari kehidupan manusia. Tapi, seni yang bagaimana, itulah yang harus kita perhatikan. jadi bukan hanya sekedar seni yang memamerkan keindahaan saja tanpa memperdulikan akhlaq dan moral. Banyak sekarang di indonesia yang mengatas namakan kebebasan berekspresi dan melakukan seni, tapi mereka tidak menyadari betapa pentingnya moral dalam ber ekspresi. Belum lama ini, dibali diadakan sebuah pertunjukkan seni Melukis pada tubuh manusia atau Body Painting ini bukan hanya sekedar tato yang kecil-kecil, tetapi melukis tubuh wanita yang (maaf) setengah telanjang kemudian dipamerkan dan dilihat oleh banyak orang, inikah seni??? ataukah hanya sebuah kebuntuan dari berfikir manusia yang terbatas sehingga mereka tidak menemukan ide untuk berekspresi dan kemudian menghalalkan semua yang haram dan telah dilarang oleh Allah SWT sebgai sara berekspresi??? "Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dibekali akal untuk berfikir dimana manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk". wallahu'alam bishawab.
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 5:31 AM  |
|
|
|
| Riya'...Membinasakan Ibadat |
| Wednesday, May 23, 2007 |
Pada suatu waktu sahur, seorang abid membaca Al-Quran, surah "Thoha", di biliknya yang berhampiran dengan jalanraya. Selesai membaca, dia berasa amat mengantuk, lalu tertidur. Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa senaskhah Al-Quran. Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. Didedahkannya surah "Thoha" dan dibeleknya halaman demi halaman untuk tatapan si abid. Si abid melihat setiap kalimah surah itu dicatatkan sepuluh kebajikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimah sahaja yang catatannya dipadamkan. Lalu katanya, "Demi Allah, sesungguhnya telahku baca seluruh surah ini tanpa meninggalkan satu kalimah pun". "Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimah ini dipadamkan?" Lelaki itu berkata. "Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang tidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. Malah, untuk kalimah itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami terdengar suara yang menyeru dari arah 'Arasy : 'Padamkan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimah itu'. Maka sebab itulah kami segera memadamkannya". Si abid menangis dalam mimpinya itu dan berkata, "Kenapakah tindakan itu dilakukan?". "Puncanya engkau sendiri. Ketika membaca surah itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumah mu. Engkau sedar hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimah yang tiada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu". Si abid terjaga dari tidurnya. "Astaghfirullaahal-'Azhim! Sungguh licin virus riya' menyusup masuk ke dalam kalbu ku dan sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekelip mata sahaja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama', serangan penyakit riya' atau ujub, boleh membinasakan amal ibadat seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun". diambil dari e-book judul : kisah teladan email: yasir72@hotmail.com
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 5:17 AM  |
|
|
|
| Etika Berkomunikasi Lewat Telepon |
| Tuesday, April 03, 2007 |
1. Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain. 2. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja. 3. Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mem-punyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain. 4. Hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Allah berfirman yang artinya: “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzab: 32).
5. Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.
6. Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.
7. Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemiliknya, dan itupun bila terpaksa.
8. Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!
9. Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Allah yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.
(Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 6:10 AM  |
|
|
|
| Etika dalam Berpakaian & Berhias |
|
1. Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih. 2. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek :”Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas nikmat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). 3. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya. 4. Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Al-Bukhari). Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya. 5. Pakaian tidak merupakan pamer pakaian (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu 'anhu telah bersabda: “Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani). 6. Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu 'anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad). 7. Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu 'anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta'ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dariumatku”. (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani). 8. Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : “Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (HR. Al-Bukhari). Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menu-tup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya. Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : “Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih). 9. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu 'anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci’. (Muttafaq’-alaih). 10. Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :
?????????? ??????? ??????? ???????? ????? ????????? ?????????????? ???? ?????? ?????? ?????? ????? ??????? “Alhamdulillaahilladzii hadzaattauba wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa qawwatin” “Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani). ===================================================================
11. Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, katrena hadits mengatakan: “Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu...” (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani). 12. Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih. 13. Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditato, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih). (Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 6:03 AM  |
|
|
|
| Etika dalam Berbicara |
| Thursday, March 08, 2007 |
1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114). 2. Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan. 3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 4. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:”Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar”.(HR. Muslim)
5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah ra. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam apabila membi-carakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).
7. Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Seorang mu’min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).
8. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
9. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12).
10. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
11. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
12. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
13. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).
(Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 4:15 PM  |
|
|
|
| Etika dalam Pergaulan |
| Saturday, February 24, 2007 |
1. Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat. 2. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. 3. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai. 4. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan mereka. 5. Bersikap tawadhu’lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka. 6. Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain. 7. Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka. 8. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka. 9. Mema`afkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya, dan tahanlah rasa benci terhadap mereka. 10. Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantah-membantah dengan mereka. (Dikutip dari Judul Asli Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari)
Selengkapnya
|
posted by Bangun Onaro P @ 5:29 AM  |
|
|
|
|
|